Agus Sutikno,Wajah dan Badan Penuh Tato,Pendeta Jalanan yang Membawa Suka Cita Natal
Umat Kristen telah melakukan perayaan Hari Raya Natal, hari kelahiran Sang Raja Damai, Yesus Kristus.
Di balik kesenangan dari perayaan Natal, tersembunyi peran penting seorang pendeta bernama Agus Sutikno.
Jika publik melihat profil Agus Sutikno, mungkin mereka meragukan bahwa dia adalah seorang pendeta.
Wajah dan badan Agus Sutino penuh dengan tato, telinganya tidak utuh, dan tubuhnya kurus sedangkan rambutnya keras dan kusut.
Penampilan Agus Sutino tidak berbeda jauh dari seorang anak Punk, yang sangat ditakutkan oleh ibu-ibu, karena dianggap agak menakutkan.
Namun, meskipun di balik penampilan fisik yang seperti itu, hatinya memang penuh dengan niat yang mulia dan tulus, sehingga dia sering mendapatkan gelar Pendeta Jalanan.
Kepribadian benar-benar pengorban dan soleh Agus Sutikno dapat dilihat langsung pada sikapnya yang peduli dengan golongan minoritas dan berinvestasi jumlah kanswil.
Menurut laporan TribunBanyumas.com, Agus Sutikno telah menggunakan warisannya untuk menyekolahkan lebih dari ratusan anak jalanan di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Agus mengangkat anak-anak jalanan dari dampak kelaparan dan keterpurukan.
Ia telah mengasuh dan menyekolahkan ratusan anak-anak jalanan di Kota Semarang maupun di daerah sekitarnya.
Ia telah memutuskan untuk meluangkan waktu 18 tahun dari hidupnya hanya untuk hal tersebut.
Dia juga mendirikan Yayasan Hati untuk Bangsa. Yayasan tersebut terletak di Jalan Manggis II, Semarang Selatan.
Agus merupakan seorang Pendeta di Gereja Pantekosta Indonesia (GPI).
Agus sudah berlangsung lama menemani anak-anak jalanan dan meninggalkan kehidupan mereka menuju kepuasan dan mimpi mereka sudah.
Agus memilih menjadi PET untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat marjinal untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Ia sering disebut-sebut sebagai 'Pendeta Jalanan' oleh warga.
Rasa dedikasinya begitu dirasakan oleh anak-anak asuhnya yang awalnya harus hidup dengan kehidupan yang keras di kota Semarang.
"Saya pernah menjual nasi bungkus di sekitar Peterongan hingga Simpang Lima Kota Semarang untuk mencukupi biaya sekolah," kata Alloysius Yefta Raffael di Yayasan Hati Bagi Bangsa, Rabu (25/12/2024).
Yayasan yang didirikan oleh Agus sekarang menjadi tempat tinggal Raffael dan rekan-rekannya.
Raffael juga menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan, meski sudah berusaha keras dengan menjual nasi, tetapi uang yang ia kumpulkan tidak cukup untuk melanjutkan sekolah ke SMA.
Sebelum adanya pandemi Covid-19, Raffael harus menelan kekecewaan yang pahit.
Tetapi doa dan perjuangannya diberi titik balas harapan. Ia bertemu dengan Agus.
Raffael diminta untuk bergabung di Yayasan Hati Bagi Bangsa, dan ia dapat melanjutkan studi karena bantuan keuangan dari yayasan tersebut.
Raffael sangat bersyukur karena sekarang dia bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke universitas.
Menurutnya, tanpa Yayasan Hati Bagi Bangsa dan peran Agus, Rafael tidak akan bisa mewujudkan impian untuk mengenyam pendidikannya.
"Aku bukan hanya sebagai ayah, Guru Embah juga pediri dan pengasuh, kenapa gampang dibilang-supervisi," jawab Ayahakterik.
Pedoman Hidup Diri
Yayasan Hati Bagi Bangsa itu sendiri didirikan oleh Agus sejak 2015 untuk memberikan harapan kepada masyarakat marjinal.
Tidak hanya anak jalanan yang putus sekolah, yayasan tersebut juga membantu mereka yang merupakan kurang mampu, pekerja seks, pecandu narkoba, orang abadi lanjut usia terlantar, serta orang dengan disabilitas548 ortak (ODHA) di Kota Semarang).
Agus sendiri mengakui bahwa telah menolong meneruskan pendidikan secik hingga 200 anak jalanan, serta merawat sejumlah lansia dan balita.
Dia mengatakan setiap hari bahwa kegiatan membantu masyarakat yang terpinggirkan tetap terus dilakukan.
Pembagian sembako dan uang saku bulanan bagi anak-anak yang diadopsi yayasan segera dilaksanakan.
"Alhasil, kami tidak hanya mangalami sudut baik hanya pada hari raya saja, akan tetapi setiap hari kami selalu ingin melakukan sesuatu yang positif," ungkap Agus.
Langkah untuk menyadarkan orang-orang yang mengonsumsi narkoba dan korban ODHA, kata Agus, pada saat ini masih dilakukan.
Menurut Agus, anak-anak jalanan itu benar-benar kehilangan ayah mereka.
Agus hadir di jalan, agar tidak menghadirkan sosok ayah yang bisa menampung dengan kasih sayang tanpa pernah menyakiti.
Agus tidak lagi memandang rendah tentang penampilannya, dan ia ingin menggunakan karunia Allah untuk membantu mereka yang kurang beruntung.
Saya biasanya tak rapi seperti pendeta, berbeda dengan mereka.
Prediksi negatif ketika orang melihat saya kemungkinan ada namun saya tidak mempedulikannya.
"Tapi setelah melihat apa yang saya lakukan selama 18 tahun pandangan mereka terhadap saya telah berubah," ucap Agus.
Bagi dia, welas asih adalah hal utama dan sedikitnya merupakan sifat dari Tuhan yang seharusnya dilanjutkan oleh manusia tanpa pandang bulu ras, suku, atau agama.
Beliau menekankan bahwa welas asih harus diwujudkan secara nyata pada diri-netranya sendiri, baik pada anggota keluarga maupun pada masyarakat lainnya.
Saya tidak pernah memaksakan iman kepada anak-anak asuh dan orang-orang yang bergabung di yayasan kami untuk menganut agama Kristen.
Apa yang saya lakukan tidak ada hubungannya dengan agama dan sepenuhnya berkaitan dengan kehidupan manusia.
"Ia masih masih menampik anak yang asuhnya juga mengenakan jilbab," kata Agus.
Selama 18 tahun, Agus dan Yayasan Hati Bagi Bangsa tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah maupun menyimpan proposal.
Meskipun menghabiskan biaya yang cukup besar, Agus berpercaya, tangan Allah tidak pernah diam membantu umatnya.
Dia menceritakan tentang hal-hal yang tidak dapat dijelaskan atau melampaui batasan rasional manusia ketika menjalani hidup untuk membantu orang lain.
Aku juga masih bingung kalau ditanya tentang itu, 18 tahun ini banyak sekali hal yang aneh-aneh menimpa aku.
"Aku percaya Tuhan yang mengutus aku membantu aku," katanya Agus.
Sebelum mengakhiri percakapan, Agus mengingatkan bahwa Khrisitmas tidak hanya milik umat Nasrani, tetapi merupakan hari universal untuk menunjukkan kasih sayang dan belasдина kepada manusia satu sama lain.
Baca berita lainnya di
Ikuti saluran di WhatsApp:
Belum ada Komentar untuk "Agus Sutikno,Wajah dan Badan Penuh Tato,Pendeta Jalanan yang Membawa Suka Cita Natal"
Posting Komentar