10 Kata-kata Sederhana yang Bisa Membuat Mental Anak Kuat Menurut Psikoterapis
Setiap orang tua pasti ingin agar anak-anaknya tumbuh dengan bahagia dan memiliki potensi besar. Namun, tidak peduli berapa pun kecerdasan anak, mereka akan menghadapi kesulitan mencapai tujuan jika tidak kuat secara mental.
Meningkatkan kekuatan mental anak bukan semata-mata meminta mereka belajar tekun. Hal ini adalah tentang memfasilitasi mereka dengan berbagai keterampilan untuk menghadapi berbagai tantangan, mengelola emosi mereka, serta meningkatkan motivasi diri.
Para ahli mengungkapan fakta bahwa masalah kesehatan mental pada generasi milenial, yaitu anak-anak dan remaja, telah semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan. Mereka gelap gembira dengan cemas hingga depresi.
"Saya ingin mengatakan bahwa selama 10 tahun terakhir, semenjak saya bekerja sebagai dokter anak umum, saya telah melihat peningkatan baik jumlah pasien maupun dari berbagai usia yang menghadapi kecemasan dan depresi. Dan orang tua mereka khawatirkan penetrasi yang lebih luas dari masalah trauma," ujar Dr. Katherine Williamson, seorang dokter anak dan kuasa publik-relasi American Academy of Pediatrics.
Bahkan sebelum wabah, kami telah melihat peningkatan signifikan jumlah anak-anak dan remaja yang mengalami masalah kesehatan mental, dan itu kian meningkat signifikan sejak wabah tersebut.
Untuk meningkatkan kekuatan mental anak, Bundanya bisa melakukan beberapa hal sederhana. Salah satu cara adalah dengan mengucapkan beberapa kata yang dapat memicu kecerdasan emosi anak dan keterampilan memecahkan masalahnya.
Berikut adalah beberapa kata-kata sederhana yang dapat membantu memperkuat mental anak:
Sebelum tidur: "Bayangkan dirimu sekarang dan besok adalah orang yang kuat dan hebat. Kamu bisa menaklukkan semua tantangan dan membuat impian kamu terlaksana."
Setelah bangun tidur: "Hari ini adalah hari baru, isi hari ini dengan kepositifan. Luangkan waktu untuk bermain, belajar, dan berbagi kasih sayang."
Membuat komitmen: "Aku akan selalu berusaha menjadi anak yang baik, berlatih kesabaran, dan bersikap ramah kepada semua orang."
Memahami kesalahan: "Jika aku membuat kesalahan, aku akan belajar dari kesalahan itu dan tidak akan mengulanginya lagi."
Hormat terhadap orang tua: "Aku menghargai dan menghormati orang tua dan keluarga. Mereka selalu ada untuk aku."
Psikoterapis Amy Morin menawarkan beberapa kalimat sederhana yang bisa memperkuat mental anak. Berikut ini, saya akan membantu menyusun deretannya:
1. "Apa yang mungkin kamu lakukan atau katakan kepada temanmu jika ia meminta strategi buat teman-temannya yang menghadapi masalah yang sama?"
Anak yang merasa tidak puas mungkin akan berbicara tentang dirinya dengan nada negatif. Ketika anak mengatakan hal seperti, "Aku tidak akan pernah lulus ujian matematika", Bunda mungkin ingin memastikan mereka.
Akan tetapi, ketika tanggung jawab bergantung pada orang tua, mereka akan belajar bergantung pada orang tuanya untuk berubah dari pemikiran yang tidak tepat.
Ibu bisa membimbing anak untuk mengubah penilaian mereka sendiri dengan mengatakan, "Apa yang pasti kamu katakan jika temanmu mengalami hal yang sama?" Ketika mereka mempertimbangkan cara mencegah teman duka cita dengan pujian, pandangan mereka akan berubah sehingga mereka belajar untuk berbicara kepada diri sendiri dengan positif.
2. "Tampaknya itu wajar jika kau merasa seperti itu"
Kalimat ini berarti Bunda memvalidasi emosi mereka. Ketika Bunda mengakui dan merasakan bersama emosi Si Kecil, mereka akan merasa diperhatikan dan dipahami.
Mereka tidak ragu-ragu untuk salah karena merasakan sesuatu tertentu. Memverifikasi perasaannya juga membangun kepercayaan dan membuat anak merasa lebih terbuka untuk berbagi berbagai kesulitan dengan Bunda.
Boleh merasaencilan, tapi tidak boleh mengambil keputusan ini
Meskipun hampir kebanyakan dari kita sebenarnya mengerti, terutama anak-anak dibagi dan disekitar apa itu perasaan dan perilaku ya? Hari ini ayah aku lagi mengingat 5 istilah penting berikut yang seharusnya anak-anak mengenalnya! 1. Arahkan perasaan. 2. Perangkap pamer perasaan. 3. Tidak sama seperti saya. 4. Tidak perlu takut. 5. Harus siapa aja.
Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa perasaan seperti marah atau sedih adalah hal yang biasa-kelamat. Namun, mereka tidak boleh mengganggu orang lain atau menyakiti seseorang.
Hal tersebut adalah kesempatan bagus bagi ibu untuk mengajarkan anak-anak cara mengatasi emosi tersebut secara alternatif. Contohnya dengan membantu mereka menarik napas dalam-dalam atau berbicara tentang perasaan mereka.
4. "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama"
Jika anak merasa frustasi atau kesulitan, reaksi spanya seorang ibu mungkin ialah mencoba langsung menyelesaikan masalah anak. Namun, penting bagi anak-anak untuk mengkaji kemampuan mereka dalam menemukan solusi.
Ketika Bunda menawarkan untuk membantu mengatasi suatu masalah bersama-sama, seseorang akan merasa lebih percaya diri karena Bunda menunjukkan bahwa mereka tidak harus menghadapi kesulitan tersebut sendirian. Mereka dapat memperoleh keuntungan dari melihat berbagai cara untuk memecahkan masalah tersebut dan mendapatkan kepercayaan diri bahwa mereka dapat membuat keputusan yang tepat.
5. "Bunda harap kamu bangga dengan diri kamu sendiri karena telah berusaha sekuat tenaga"
|
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Erdark
|
Menyatakan pengakuan dan bukan hanya hasil akan mengajarkan anak-anak untuk menghargai upaya mereka daripada keadaan sempurna. Jika bunda hanya memberi pujian karena mendapatkan nilai tinggi, mereka mungkin menyadari bahwa nilai rapor lebih penting dari pada untuk jujur atau bertanggung jawab.
Ketika ibu menggunakan kutipan ini, ibu akan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka dapat bangga dengan diri sendiri tanpa terus-menerus mencari validasi dari luar. Ketika anak-anak merasa bahagia atas kemampuan mereka sendiri, mereka akan belajar motivasi diri dan menentang kegagalan.
6. "Apakah ada hal di mana kamu merasa berani melibatkan diri dan mungkin gagal?"
Biasanya gagal pahit dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Namun, anak-anak berani memiliki paham bahwa ini adalah bagian dari proses pembelajaran dan tumbuh kembang.
Membicarakan kegagalan secara terbuka akan menjemput anak-anak untuk mencoba hal-hal baru, meninggalkan kebiasaan yang biasa, dan memperkuat kekeyakinan diri mereka dalam setiapusaha mereka, apa pun yang terjadi.
7. "Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini?"
Bila ada sesuatu yang tidak seperti yang diharapkan, anak cenderung untuk berpikir tentang hal-hal negatif. Perlu memberikan pengalih fokus ke aspek pertumbuhan dan pembelajaran.
Hal ini mengajarkan mereka untuk melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk memperbaiki dan membantu mereka mengembangkan pola pikir yang kaya akan rasa ingin tahu, bukan untuk mengkritik diri sendiri.
8. "Apakah kamu perlu menemukan solusi atau menyelesaikan perasaanmu terkait masalah tersebut?"
Pertanyaan ini akan menjelaskan perbedaan penting antara ancaman luar dan reaksi internal. Misalnya bila anak merasa takut akan soal matematika yang sulit sehingga dia ingin menunda mengerjakan lembar kerja. Biarkan dia tidak mengerjakan akan mengurangi kepanikan saat ini, tapi akan menimbulkan masalah di masa datang.
Lebih baik lagi jika Anda membantu mereka menyadari bahwa ketakutan mereka muncul karena situasi yang salah mereka rasakan. Dan dengan kesadaran tersebut, mereka juga mampu mengatasi perasaan tersebut lebih baik dari pada menghindari masalahnya.
Mengajari anak-anak untuk mengetahui bahwa masalahnya sebenarnya adalah masalah situasi atau persepsi mereka sendiri dapat memberi mereka lebih banyak kontrol atas bagaimana mereka bereaksi. Ini juga akan membantu mereka untuk mengenali kapan mereka hampir untuk mengubah perspektif dan situasi mereka.
9. "Apa dasar ilmiah dari pemikiran tersebut?"
Banyak anak-anak berpikir secara absolut, "tahu aku tidak pintar" atau "tidak ada orang yang menyukai aku". Pertanyaan ini dapat membantu mereka menguji dan mengguncang keyakinan tersebut dengan memfokuskan pada hal-hal yang menunjukkan pengecualian.
Anak dapat belajar bahwa ada kalanya ide tersebut tidak benar dan mulai membangun perkembangan perspektif yang lebih fleksibel dan realistis tentang diri sendiri dan sekitarnya.
10. Mari kita berbicara tentang hal-hal apa yang patut kita syukuri hari ini
Betapa sedihnya tidak memiliki rasa syukur. Mendengar kata-kata tersebut membuat perasaan tidak nyaman. Langkah-langkah mengenal anak-anu dalan mengujarinya pada anak-anu di rumah sebagai prinsip yang tepat dan hal-hal yang tidak disangka turut mengajarinya untuk menyukai momennya.
Saya sangat bersyukur karena bisa mengajari anak-anak bahwa mereka cukup beruntung. Hal ini akan membantu membuat Si Kecil lebih kuat secara emosi dan siap mencari hal-hal positif di dunia.
Berikut adalah informasi tentang kata-kata sederhana untuk memperkuat mental anak, Muda. Semoga informasi ini berguna untuk Anda.
. Gratis!
Belum ada Komentar untuk "10 Kata-kata Sederhana yang Bisa Membuat Mental Anak Kuat Menurut Psikoterapis"
Posting Komentar